Article : Asal Usul Agama Kaum Sikh

Ramai yang tak tahu asal-usul agama Sikh kat Malaysia nie, so aku ada kumpulkan beberapa fakta mengenainya.

Sikhisme adalah salah satu agama terbesar di dunia. Agama ini berkembang terutamanya pada abad ke-16 dan 17 di India. Kata Sikhisme berasal dari kata Sikh, yang bererti “murid” atau “pelajar”.

Kepercayaan-kepercayaan utama dalam Sikhisme adalah:

  • Percaya dalam satu Tuhan yang pantheistik. Kalimat pembuka dalam naskah-naskah Sikh hanya sepanjang dua kata, dan mencerminkan kepercayaan dasar seluruh umat yang taat pada ajaran-ajaran dalam Sikhisme: Ek Onkar(Satu Tuhan).
  • Ajaran Sepuluh Guru Sikh (serta para cendekiawan Muslim dan Hindu yang diterima) dapat ditemukan dalam Guru Granth Sahib.

Sikhisme dipengaruhi pergerakan perubahan dalam agama Hindu (misalnya Bhakti, monisme, metafisika Weda, guru ideal, dan bhajan) serta Islam Sufi. Agama ini berangkat dari adat-adat sosial dan struktur dalam agama Hindu dan Islam (contohnya sistem kasta dan purdah). Filsafat dalam Sikhisme bercirikan logika, keseluruhan (bersifat komprehensif), dan pendekatan yang sederhana terhadap masalah-masalah spiritual mahupun material. Teologinya penuh kesederhanaan. Dalam etika Sikh, tidak ada konflik antara tugas peribadi terhadap diri sendiri dengan masyarakat.

Sikhisme berasal dari daerah Punjab di India, namun kini pengikutnya juga dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia yang mempunyai komunitas India. Di Asia Tenggara, umat Sikh banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura. Kaum  Sikh dapat dikenali melalui namanya yang kebanyakan diakhiri Singh untuk lelaki dan Kaur untuk wanita.

Sri Guru Granth Sahib adalah Guru para pemeluk agama Sikh.

Guru Gobind Singh (1666-1708), Guru kesepuluh dalam tradisi Sikh, mengukuhkan teks suci Guru Granth sebagai penggantinya, dan dengan demikian mengakhiri garis sukses para Guru yang manusiawi, dan meninggikan teks kitab itu menjadi Guru Granth Sahib. Sejak saat itu, teks ini tidak hanya tetap menjadi kitab suci para pemeluk sikh, tetapi juga dianggap oleh mereka sebagai perwujudan yang hidup dari ke-Sepuluh Guru.Guru Granth Sahib, sebagai sumber atau pedoman dalam doa, menduduki tempat yang sentral dalam Sikhisme.

Guru Granth pertama kali dikompilasikan oleh Guru Sikh kelima, Guru Arjan Dev (1563-1606), dari nyanyian-nyanyian suci dari kelima Guru Sikh pertama dan para orang suci lainnya dari tradisi-tradisi Hindu dan Islam.Penulis asli dari Adi Granth ini adalah Bhai Gurdas dan belakangan Bhai Mani Singh. Setelah Guru Sikh kesepuluh meninggal dunia, banyak salinan tulisan tangan disiapkan untuk disebarkan oleh Baba Deep Singh.

‘Guru Granth Sahib’ adalah sebuah kitab yang tebal, dengan 1430 halaman, yang dikompilasikan dan disusun pada masa Guru-guru Sikh, dari 1469 hingga 1708.Kitab ini dikompilasikan dalam bentuk nyanyian-nyanyian suci yang memuji Tuhan dan yang menggambarkan seperti apa Tuhan itu dan cara hidup yang benar. Kitab ini ditulis dengan huruf Gurmukhi, dan terutama dalam bahasa Punjabi kuno tetapi juga menggunakan garis-garis yang digunakan untuk bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Braj, Punjabi, Khariboli (Hindi), Sansekerta, dialek-dialek regional, dan bahasa Persia.
Makna dan peranan dalam Sikhisme

Kaum Sikh menganggap Guru Granth Sahib sebagai otoritas tertinggi di dalam komuniti mereka. Kitab ini memainkan peranan sentral dalam kehidupan devosi dan ritual Sikh. Tempat Guru Granth Sahib dalam kehidupan devosi Sikh didasarkan pada dua prinsip atau keyakinan dasar. Yang pertama ialah bahwa teks di dalam Adi Granth adalah wahyu suci, sehingga tidak boleh diubah-ubah, dan kedua, bahwa semua jawapan mengenai agama dan moral dapat ditemukan di dalam teks tersebut. Nyanyian-nyanyian dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab suci Sikh disebut Gurbani atau “Firman Sang Guru” dan kadang-kadang Dhurbani atau “Fiman tuhan”. Dengan demikian, dalam teologi Sikh, firman tuhan yang diungkapkan adalah Sang Guru ini (Guru Granth Sahib).Karena kitab suci ini memperoleh otoritasnya dari para Guru Sikh, ia pun disebut Guru Granth, ertinya “Kitab Guru”.

Karya sejumlah orang suci yang menyumbang bagi tersusunnya Guru Granth Sahib secara kolektif dirujuk sebagai Bhagat Bani atau “Firman Umat”. Para orang suci ini tergolong pada latar belakang sosial dan keagamaan yang berbeda-beda, termasuk Hindu dan Muslim, tukang sepatu dan bahkan mereka yang haram disentuh. Meskipun para Bhagat Sikh ini tidak memperoleh status Guru dalam Sikhisme, karya-karya mereka sama-sama dihormati dengan karya para Guru Sikh dan tidak ada perbedaan yan dibuat antara karya seorang Bhagat Sikh dengan seorang Guru Sikh. Inti sari doktrin ini ialah bahwa Guru Granth Sahib, yang mengandung ajaran lengkap dari para Guru Sikh, adalah pengganti satu-satunya dan terakhir dalam garis suksesi para Guru. Siapapun yang mengklaim status sebagai Guru yang hidup dianggap sebagai penyesat.
Sejarah

Pekerjaan menuliskan ajaran-ajaran Guru Nanak, Guru pertama dan pendiri Sikhisme, dimulai pada masa hidupnya.Ketika Guru Angad menjadi Guru kedua umat Sikh, Guru Nanak memberikan kepadanya kumpulan nyanyian dan pengajarannya dalam bentuk sebuah “pothi” (naskah). Guru Angad menambahkan 63 dari komposisinya sendiri dan berikutnya menurunkan naskah yang telah diperluas itu kepada Guru yang ketiga, Amar Das. Guru Amar Das menyiapkan sejumlah naskah, yang ditambahkannya dengan 974 komposisinya sendiri, serta karya-karya berbagai Bhagat. Naskah-naskah ini, yang dikenal sebagai Goindwal pothis, menyebutkan pesan Guru Amar Das tentang mengapa Bhagat Bani diikutsertakan dan bagaimana para Bhagat itu dipengaruhi oleh Guru Nanak.Guru keempat juga menyusun nyanyian-nyanyian dan menyimpannya dalam sebuah pothi.

Guru kelima, Arjan Dev, dengan maksud mengkonsolidasikan Bani (firman Ilahi) dari para Guru sebelumnya dan untuk mencegah masuknya komposisi-komposisi yang palsu ke dalam teks yang asliya, memutuskan untuk mengkompilasikan Adi Granth.Naskah kuno Sikh Tawarikh Guru Khalsa menyebutkan bahwa Guru Arjan Dev mengeluarkan sebuah Hukamnamah (perintah resmi), yang isinya meminta sumbangan dari siapapun yang dapat membuatnya. Semua sumber dan isi Bani ditinjau kembali, baik yang berasal dari para Guru sebelumnya maupun dari para bhagat. Penelitian Guru Arjan Dev atas teks-teks itu berusaha untuk mengatur dan mengukuhkan otentisias dari wahyu yang ada. Guru Arjan memulai pekerjaan menyusun Adi Granth sejak 1599.

Sepuluh Guru Sikh

Kesepuluh Guru dalam Sikhisme adalah:

# Nama Menjadi Guru pada Lahir Wafat Usia Ayah Ibu
1 Guru Nanak Dev 15 April 1469 20 Agustus 1507 22 September 1539 69 Mehta Kalu Mata Tripta
2 Guru Angad Dev 7 September 1539 31 Maret 1504 29 Maret 1552 48 Baba Pheru Mata Ramo
3 Guru Amar Das 25 Maret 1552 5 Mei 1479 1 September 1574 95 Tej Bhan Bhalla Bakht Kaur
4 Guru Ram Das 30 Agustus 1574 24 September 1534 1 September 1581 47 Baba Hari Das Mata Daya Kaur
5 Guru Arjan Dev 28 Agustus 1581 15 April 1563 30 Mei 1606 43 Guru Ram Das Mata Bhani
6 Guru Har Gobind 30 Mei 1606 19 Juni 1595 3 Maret 1644 49 Guru Arjan Mata Ganga
7 Guru Har Rai 28 Februari 1644 26 Februari 1630 6 Oktober 1661 31 Baba Gurditta Mata Nihal Kaur
8 Guru Har Krishan 6 Oktober 1661 7 Juli 1656 30 Maret 1664 8 Guru Har Rai Mata Krishan Kaur
9 Guru Tegh Bahadur 20 Maret 1665 1 April 1621 11 November 1675 54 Guru Har Gobind Mata Nanki
10 Guru Gobind Singh 11 November 1675 22 Desember 1666 7 Oktober 1708 42 Guru Tegh Bahadur Mata Gujri

Guru Granth Sahib adalah teks suci yang dianggap oleh para pengikut Sikhisme sebagai Guru kesebelas mereka.

Sejarah kedatangan orang Sikh Di Malaysia

Sejarah kedatangan orang Sikh adalah sama jika dibandingkan dengan imigran – imigran iaitu pada awal kurun ke 19. Faktor ekonomi dilihat sebagai penyebabkan kedatangan imigran – imigran Sikh secara beramai – ramai ke negara – negara Asia Tenggara seperti Burma, Indonesia dan Malaya. Masalah kekurangan tanah, bertambahnya jumlah penduduk serta bencana alam menyemarakkan lagi semangat mereka untuk ke Asia Tenggara. Tersedianya peluang – peluang pekerjaan yang banyak dalam pelbagai bidang serta polisi imigrasi yang agak liberal, menggalakkan penghijrahan beramai – ramai ke Malaya yang ketika itu diperintah oleh Inggeris.

Pada pertengahan abad ke 19 aramai orang Sikh telah berhijrah ke Malaysia ( Tanah Melayu ). Pihak British telah menggunakan orang – orang Sikh dari India yang merupakan salah satu daripada tanah jajahan British untuk berkhidmat dalam pasukan keselamatan kerana mereka mempunyai susuk badan yang tegap. Pada peringkat awal penghijrahan orang Sikh tertumpu ke negeri Perak. Anutan Sikh menjadi elemen penting untuk menyatupadukan orang Sikh dalam pasukan “Perak Armed Police” (PAP). Ini juga merupakan faktor utama mengapa boleh terjalinnya hubungan yng kukuh di kalangan orang – orang Sikh dalam pasukan keselamatan ini. ( Sushila, 1990:43-44).

Pada kurun ke 20 pula orang Sikh yang berhijrah ke Malaysia mula berkhidmat di sektor kerajaan mahupun swasta. Mereka telah bekerja sebagai jaga, bekerja di sektor pertanian, menternak lembu, menjadi buruh dan peminjam wang ( money lenders).

Penempatan awal orang Sikh di Malaya tertumpu di pantai barat iaitu di Pulau Pinang, Perak, Wilayah Persekutuan dan Selangor. Bandar – bandar yang menjadi tumpuan orang Sikh termasuklah Ipoh, Taiping, Kuala Lumpur dan Seremban. Oleh kerana kumpulan mereka kecil dibandingkan dengan kumpulan etnik yang lain, maka mereka didapati berselerak luas. Jika terdapat lebih kurang dua puluh keluarga di satu – satu kawasan penempatan, maka penempatan itu dikenali sebagai kampung Benggali. Misalannya seperti di Kampung Benggali, Taiping dan Tanjung Rambutan.

Orang Sikh yang termasuk juga golongan orang Punjabi adalah dirujuk sebagai satu “komuniti agama”. Mereka membeza – bezakan satu kumpulan yang lain dengan berdasarkan sistem kasta dan juga pembahagian kawasan. Bahasa ibunda orang Sikh adalah bahasa Punjabi tetapi terdapat banyak dialek yang digunakan oleh mereka di kawasan – kawasan yang berkaitan. Orang Sikh secara umum dapat dikategorikan sebagai “Arora Sikh”, “Jat Sikh”, “Khatri Sikh”, Mazhbi Sikh” mengikut pengkhususan pekerjaan mereka.

Orang Sikh Jat seterusnya dibahagikan kepada 3 kumpulan mengikut pembahagian kawasan di tempat asal nenek moyang mereka di Lembah Indus. Ketiga – tiga kumpulan ini adalah Jat Majha, Jat Malwa dan Jat Doabia, iaitu ketiga – tiga ini merujuk kepada sempadan – sempadan juga cawangan Sungai Indus.

Anutan Agama
Pengasas – pengasas agama Sikh muncul apabila negara India sedang berada dalam pengelutan kuasa di antara puak Islam dan Hindu. Perkataan Sikh dalam bahasa Sanskrit “shisya” bermaksud “disciple” manakala dalam bahasa Punjabi, perkataan Sikh bermakna penuntut / penganut. Guru Nanak Dev Ji (1469 – 1539) telah mengasaskan tapak kepada kemunculan agama Sikh. Suasana politik serta keagamaan dan sosial yang tidak menyenangkan di India menyebabkan beliau mencari arah baru untuk membawa keamanan bagi umat manusia. Selepas Guru Nanak meninggal dunia, terdapat 9 orang guru lain yang telah berjasa bagi kaum Sikh.

Kitab suci orang Sikh iaitu “Granth sahib” merupakan sumbangan penulisan Guru – guru Sikh yang dikenali sebagai “Bani” (Artha – artha suci). Namun yang demikian jika ditinjau secara mendalam jelas terdapat sumbangan – sumbangan tokoh – tokoh Islam dan doktrin Hinduisme.

Namun apa yang penting di dalam agama Sikh ialah kepercayaan dalam kesatuan Tuhan dan menyamakan Tuhan dengan “kebenaran” atau “Sach”. Kepercayaan asas di dalam Sikhisme terdapat di dalam “Japji” atau dikenali sebagai “mool mentra”. Setiap penganut agama Sikh adalah dikehendaki untuk mengetahui “Japji” dan membacanya pada setiap subuh.

Sikhisme menerima teori “karma” atau “reinkamasi” dan setiap individu akan melalui beberapa kali putaran hiudup yang berlainan untuk mencapai nirvana. Adalah dipercayai bahawa terdapat lapan puluh empat ribu juta kali putaran hidup atau “Junn” kesemuanya. Pendek atau panjang putaran yang dilalui oleh seseorang di dalam dunia ini untuk mencapai nirvana adalah bergantung kepada dosa yang dilakukannya. Sikhisme menafikan pemujaan sungai – sungai, dewa –dewa ataupun bertafakur dan adalah sia – sia melakukannya sekiranya minda manusia tidak suci.

Sikhisme menolak sistem kasta dan mengamalkan keseronokan di antara manusia. Walaubagaimanapun, pada praktikalnya kaum Sikh tidak terlepas dari membeza- bezakan di antara satu sama lain. “Gurudwara” atau pintu Tuhan merupakan sahaja kaum yang paling utama di kalangan masyarakat Sikh. Walau di mana sahaja kaum Sikh berada tumpuan utama diberikan kepada penubuhan sebuah “giridwara” sebelum menceburi lain – lain bidang. Kekuatan kolektif orang Sikh adalah berpusat dan berputar sekeliling ‘Gurudwara”.

“Gurudwara” merupakan simbol suci orang – orang Sikh yang harus dihormati kerana di situlah tempatnya kaum Sikh berkumpul untuk mengetahui ajaran Sikh. Di dalam “Gurudawa” semua manusia adalah sama dan layanan yang sama perlu diberikan tanpa mengira kasta, warna kulit, kedudukan sosio ekonomi mahupun kewarganegaraan.

Satu lagi ciri unik dari sudut pandangan agama Sikh ialah peraturan 5K iaitu “kanga”, “kirpan”, “kerah”, “kesh”, dan ‘keshairah”. Lima K ini ialah tanggungjawab setiap orang Sikh untuk menyimpan rambut, memakai sikat khas di rambut, serta memakai gelang khas di tangan kanan , menyimpan pisau khas serta memakai sejenis seluar khas. Setiap orang Sikh dikehendaki melalui ritus pembaptisan atau mengambil “ amrit” dalam hidupnya sebagai menandakan bahawa beliau telah bersetuju mengikuti pengajaran Guru Grantu Sahib.

Perkahwinan

Sikhisme mengesyorkan hidup berkeluarga atau “ grithstashram” dan berumahtangga. Seseorang Sikh tidak seharusnya hidup terasing malahan perlu untuk berusaha untuk pembangunan komunitinya. Institusi perkauman merupakan satu institusi yang suci dan harus bagi setiap orang Sikh. Melalui perkahwinan kasih sayang di antara dua buah keluarga menjadi rapat.

Perkahwinan dalam masyarakat Sikh adalah di atur oleh ibu bapa dan saudara mara. Ini adalah kerana masyarakat Sikh merupakan satu komuniti yang kecil maka merisik dan menyelidik latar belakang seseorang mudah dilakukan. Adalah menjadi tanggungjawab ibu bapa dan keluarga untuk mencari pasangan hidup yang baik bagi anak – anak. Tambahan pula perkahwinan adalah asas kepada kesedaran kasta.

Waktu yang menjadi pilihan untuk merisik adalah semasa musim – musim perayaan dan upacara sembahyang di “Gurudwara”. Suasana ini memberikan kesempatan kepada golongan yang lebih tua untuk mengetahui latar belakang keluarga, taraf pendidikan, pekerjaan, dan lain – lain hal mengenai gadis atau lelaki. Selalunya pihak gadis akan melamar si lelaki dan bukan sebaliknya.

Walaupun agama Sikh melarang sistem kasta namun masyarakat Sikh yang dikaji hampir keseluruhannya berpegang kuat kepada idea kasta kecuali dalam kes berkahwin campur.

Fakta Tentang Agama sikh

  • Agama Sikh adalah gabungan  beberapa eleman ajaran agama lain seperti,Islam dan Hindu
  • Tahukah anda bahawa,tiada konsep syurga dan neraka dalam Agama Sikh.Kaum sikh percaya apabila seseorang itu mati rohnya akan bersatu semula dengan tuhan.Ujian,dosa,pahala karma semuanya dilalui semasa hidup.

27 total views, 1 views today

Tags: , , , , , , , ,

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

Top